Jumat, 30 September 2011

Etika

Sebagai  cabang  pemikiran  filsafat,  etika  bisa    dibedakan manjadi  dua:  obyektivisme  dan  subyektivisme.  Yang pertama berpandangan bahwa  nilai  kebaikan  suatu  tindakan  bersifat obyektif,  terletak pada substansi tindakan itu sendiri. Faham ini melahirkan  apa  yang  disebut  faham  rasionalisme   dalam etika.  Suatu  tindakan  disebut  baik,  kata faham ini, bukan karena kita senang melakukannya, atau  karena  sejalan  dengan kehendak  masyarakat,  melainkan semata keputusan rasionalisme universal yang mendesak kita untuk berbuat begitu. Tokoh utama pendukung  aliran  ini  ialah  Immanuel  Kant, sedangkan dalam Islam --pada batas tertentu-- ialah aliran Muitazilah.

Aliran kedua ialah  subyektifisme,  berpandangan  bahwa  suatu tindakan  disebut  baik  manakala sejalan dengan kehendak atau pertimbangan subyek tertentu. Subyek disini bisa  saja  berupa subyektifisme  kolektif,  yaitu  masyarakat,  atau  bisa   saja subyek Tuhan. Faham subyektifisme etika  ini  terbagi  kedalam beberapa  aliran,  sejak dari etika hedonismenya Thomas Hobbes sampai ke faham tradisionalismenya Asy’ariyah.

Menurut  faham  Asy’ariyah,  nilai  kebaikan  suatu    tindakan bukannya  terletak  pada obyektivitas nilainya, melainkan pada ketaatannya pada kehendak Tuhan. Asy’ariyah berpandangan bahwa menusia  itu  bagaikan  ‘anak  kecil’  yang  harus   senantiasa dibimbing oleh wahyu karena tanpa wahyu  manusia  tidak  mampu memahami mana yang baik dan mana yang buruk.

Kalau  kita  sepakati  bahwa  etika  ialah suatu kajian kritis rasional mengenai yang baik dan yang buruk,  bagaimana  halnya dengan   teori   etika   dalam  kitab  suci?   sedangkan  telah disebutkan di muka, kita  menemukan  dua  faham,  yaitu  faham rasionalisme   yang   diwakili   oleh   Mu’tazilah   dan  faham tradisionalisme yang diwakili oleh Asy’ariyah.

Munculnya perbedaan itu memang  sulit  diingkari  baik  karena pengaruh  Filsafat  Yunani  ke dalam dunia Islam maupun karena narasi ayat-ayat al-Qur’an  sendiri  yang  mendorong  lahirnya perbedaan  penafsiran.  Di  dalam  al-Qur’an pesan etis selalu saja   terselubungi   oleh   isyarat-isyarat    yang   menuntut penafsiran dan perenungan oleh manusia.

ETIKA DAN KEBEBASAN

Menurut aliran voluntarisme rasional, suatu tindakan etis akan terwujud bilamana tindakan  itu  produk  pilihan  sadar  dalam situasi  bebas,  bukannya  terpaksa.  Suatu pertanggungjawaban etis bisa diberlakukan hanya ketika  seseorang  berbuat  dalam keadaan  sadar  dan  bebas.  Dengan demikian, etika senantiasa mengamsumsikan kebebasan.  Semakin  besar  wilayah  kebebasan, semakin besar pula pertanggungjawaban moralnya.

Dalam   perspektif   di   atas,   maka    faham  Jabariah  yang berpandangan  bahwa  tindakan  manusia  adalah  bagaikan,gerak wayang,  yang  ditentukan  oleh  ‘dalang’  tak ada tempat bagi konsep etika voluntarisme rasional Kantianisme.

Etika  voluntarisme  rasional   melahirkan   suatu    pandangan terhadap  manusia  sebagai  sosok  manusia berakal yang dewasa suatu  pandangan   positif   bahwa   manusia    memang   pantas mendapatkan  julukan  ahsan-u ‘l-taq wim, puncak ciptaan Tuhan meskipun  keunggulan  kualitas   manusia   itu    masih   harus diperjuangkan   dan   disempurnakan   sendiri    oleh  manusia. Barangkali saja dalam perspektif yang demikian ini  kita  bisa memahami  mengapa  pewahyuan Tuhan melalui para rasulNya telah diakhiri,  sementara  kehidupan   menusia   kian    hari   kian berkembang sedemikian kompleknya.

Sebelum  kerasulan  Muhammad  problema kehidupan manusia tidak sekomplek pasca-Muhammad, namun  justeru  pada  masa-masa  itu Allah  sering  mengirimkan  rasul-rasulNya.  Mengapa demikian, biasanya kita mengajukan dua jawaban. Pertama, tuntutan  Allah yang   diturunkan   kepada   manusia.  Kedua,   manusia  dengan kemampuan rasionalitasnya telah mampu  mengevaluasi  kehidupan kesejarahan untuk menciptakan kebaikan hidup mereka.

Klaim  yang menyatakan Islam sebagai agama universal dan agama paripurna tersirat pada  surat  al-Maidah  ayat  3  dan   surat al-Anbiya  ayat  107.  Yang  pertama  menyebutkan  bahwa Islam adalah nikmat  Tuhan  yang  telah  disempurnakan,  yang   kedua menyatakan  bahwa Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Secara dogmatis theologis kedua klaim  di  atas  memang  sudah lazim  diterima  oleh  umat  Islam,  namun secara rasional dan empiris tampaknya masih perlu dirumuskan serta  diuji  kembali kebenarannya dalam perjalanan sejarahnya.

Dari  analisis bahasa dan sosio-historis, Islam hadir bukannya dalam ruang kosong, melainkan dalam wacana yang memiliki sifat lokal   dan  partikular.  Secara  eksplisit  disebutkan   bahwa al-Qur’an  disebarluaskan  dengan  menggunakan  bahasa    Arab. Bahasa  mau  tidak  mau  bersifat  budaya,  ia  terikat dengan kaidah-kaidah sosial dan konsensus budaya. Jadi, universalitas pesan  al-Qur’an akan bisa terkomunikasikan kalau manusia juga memiliki dimensi universal. Dalam  hal  ini  rasionalitas  dan substansi   bahasalah  yang  secara  jelas  merupakan   dimensi universal yang melekat pada manusia.  Manusia  dibedakan  dari binatang  terutama  adalah  karena  manusia  merupakan   animal symbolicum, yaitu makluk yang hidup dengan symbol-symbol.  [4] Berbahasa pada dasarnya adalah berpikir, dan berpikir tidaklah mungkin tanpa bahasa, meskipun berbahasa  tidak  selalu  harus berbicara ataupun menulis.

Karena  adanya rasionalitas dan kemampuan berbahasa maka suatu masyarakat tercipta, komunikasi antar mereka berlangsung,  dan dunia  di  sekitarnya  memperoleh  makna.  Barangkali fenomena inilah yang telah diisyaratkan oleh al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 31 dimana Allah telah mengajar ‘nama-nama’ pada Adam.

Karena  rasionalitas  dan  sistem symbol yang dimiliki manusia maka realitas masa lampau bisa direkontruksi, diceritakan  dan dihadirkan  kembali  di  hadapan  kita melalui narasi sejarah. Suatu nilai,  cita-cita  dan  gagasan  masa  lampau  pun   bisa diwariskan  kepada generasi ke generasi lantaran adanya sistem simbol ini. Dan sesungguhnya hanyalah  al-Qur’an  yang  secara eksplisit dan tegas agar umat Islam mengembangkan rasionalitas dan sistem simbol  untuk  membangun  peradabannya.  Kita  bisa membuat  suatu  pengandaian, kalau saja al-Qur’an bertentangan dengan rasionalitas, maka bisa dipastikan  bahwa  Islam  telah terdistorsi  dalam  perjalan  sejarahnya. Lebih dari itu etika Islam akan teranomali dalam kehidupan modern.

Dengan kata lain,  al-Qur’an  dan  pesan-pesannya  kini   telah menjadi  bagian integral dari realitas sejarah masa lampau dan tetap hidup sampai kini, tanpa adanya revisi dan campur tangan Tuhan,  baik  isi  maupun  redaksionalnya.  Di  sini   tersirat pandangan positif al-Qur’an tentang manusia. Kalau kita telaah ayat-ayat  al-Qur’an  segera  kelihatan  bahwa etika al-Qur’an amat humanistik dan  rasionalistik.  Pesan  al-Qur’an  seperti halnya   ajakan   kepada   keadilan,   kejujuran,   kebersihan, menghormati orang tua, bekerja keras,  cinta  ilmu,  dan  lain sebagainya, semuanya amat sejalan dengan prestasi rasionalitas manusia sebagaimana tertuang dalam karya-karya para filosof.

Etika Islam memiliki antisipasi jauh ke depan dengan dua  ciri utama.  Pertama,  etika Islam tidak menentang fithrah manusia. Kedua,  etika  Islam  amat  rasionalistik.   Sekedar    sebagai perbandingan  baiklah akan saya kutipkan pendapat Alex Inkeles mengenai sikap-sikap modern. Setelah melakukan kajian terhadap berbagai  teori  dan  definisi  mengenai  modernisasi, Inkeles membuat rangkuman mengenai sikap-sikap modern sabagai berikut, yaitu:  kegandrungan menerima gagasan-gagasan baru dan mencoba metode-metode  baru;  kesediaan  buat   menyatakan    pendapat; kepekaan  pada  waktu  dan  lebih  mementingkan waktu kini dan mendatang ketimbang waktu yang telah  lampau;  rasa  ketepatan waktu  yang  lebih  baik;  keprihatinan yang lebih besar untuk merencanakan organisasi dan efisiensi; kecenderungan memandang dunia  sebagai  suatu  yang bisa dihitung; menghargai kekuatan ilmu dan teknologi; dan  keyakinan  pada  keadilan  yang  bisa diratakan.

Rasanya  tidak  perlu  lagi dikemukakan di sini bahwa apa yang dikemukakan Inkeles  dan  diklaim  sebagai  sikap  modern   itu memang  sejalan  dengan etika al-Qur’an. Dalam diskusi tentang hubungan antara  etika  dan  moral,  problem  yang   seringkali muncul  ialah  bagaimana melihat peristiwa moral yang bersifat partikular dan individual dalam perspektif  teori  etika  yang bersifat rasional dan universal.

Islam  yang  mempunyai  klaim  universal  ketika  dihayati dan direalisasikan  cenderung  menjadi  peristiwa  partikular  dan individual.  Pendeknya, tindakan moral adalah tindakan konkrit yang bersifat pribadi dan subyektif. Tindakan moral  ini  akan menjadi  pelik ketika dalam waktu dan subyek yang sama terjadi konflik nilai. Misalnya  saja,  nilai  solidaritas  kadangkala berbenturan  dengan  nilai  keadilan dan kejujuran. Di sinilah letaknya kebebasan, kesadaran moral serta rasionalitas menjadi amat  penting.  Yakni  bagaimana  mempertanggungjawabkan suatu tindakan subyektif dalam kerangka nilai-nilai etika  obyektif, tindakan  mikro  dalam kerangka etika makro, tindakan lahiriah dalam acuan sikap batin.

Dalam  teori  etika,  tindakan  moral  mengamsumsikan    adanya otonomi  perbuatan  manusia.  Menurut  Islam,  untuk   mencapai otonomi dan kebebasan sejati tidaklah  harus  ditempuh  dengan menyatakan  ‘kematian  Tuhan’ sebagaimana diproklamasikan oleh Nietzsche atau Sartre  misalnya,  keduanya  berpendapat  bahwa manusia akan terkungkung dalam kekerdilan dan ketidakberdayaan serta  dalam  perbudakan  selama   tindakan   moralnya    masih membutuhkan kekuatan dan kesaksian dari Tuhan. Oleh karenanya, menusia  haruslah  bertanggungjawab  kepada  dirinya  sendiri, bukannya  pada  Tuhan.  Lebih dari itu, untuk mencapai derajat kemanusiaannya secara prima manusia harus meniadakan Tuhan dan kemudian     menggali     dan     mengaktualisasikan    potensi kemanusiaannya.

Dasar pemikiran seperti di  atas  tentu  saja  berangkat  dari konsepsi   ketuhanan  dalam  tradisi  Kristen.  Dalam   sejarah pemikiran Barat kita mencatat  bahwa  untuk  mencapai  derajat filsuf  biasanya  mereka  mesti  bentrok dengan doktrin gereja tentang Tuhan. Sedangkan dalam Islam  justru  ketika  tindakan kita  diorientasikan  pada  Tuhan Yang Maha Absolut, Yang Maha Bebas, maka kita tidak akan terjebak dalam  relativisme  dunia dan sebaliknya kita akan terangkat menuju pada atmosphere Yang Maha Otonom.

Pengakuan bahwa kita bukan makluk sempurna  yang  sudah  jadi, dan  kemudian  diikuti  dengan usaha kontinyu menuju Yang Maha Sempurna, di sanalah terletak  makna  keimanan  yang  dinamis. Menurut   Kant,   puncak   rasionalitas   pada   akhirnya  akan mengantarkan pada pintu keimanan yang bersifat supra-rasional. Tuhan,   keimanan,   dan   kemerdekaan   bukanlah   obyek  ilmu pengetahuan. Semua  berada  di  luar  jangkauan  rasio,   namun puncak   rasionalitas  mengantarkan  menusia  untuk   melakukan loncatan ke arah sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar